Monday, January 20, 2014

FINALLY!

Akhirnya UAS juga, dan besok ujian Psikologi Belajaaaaaaaar
Yah perasaan campur aduk, namanya juga ujian

Tidak lain tidak bukan, tentu hasil yang diharapkan yang terbaik hehe


Metakognisi dan Pemecahan Masalah

Rekonseptualisasi tentang pemikiran dan belajar yang muncul menunjukkan bahwa menjadi seorang pemikir yang baik dalam ranah apa saja boleh merupakan persoalan bagaimana mendapatkan kebiasaan dan disposisi interpretasi dan memahami serta bagaimana mendapatkan seperangkat keterampilan. (Resnick, 1988, h. 58)

Perspektif Kognitif:
II. Metakognisi dan Pemecahan Masalah

Metakognisi

Secara umum, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir tentang pemikiran. Beberapa perspektif menekankan pengetahuan individual tentang kognisi dan penggunaan strategi. Komponen utama dari metakognisi adalah:
(1) pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri,
(2) pengetahuan tentang kapan dan di mana mesti menggunakkan strategi yang
     diperoleh
Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri dan kesadaran akan kesulitan selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan.
Model aktivitas meta kognitif dalam belajar terdiri dari 4 tahap, yaitu 
- pendefinisian tugas
- penentuan tujuan dan perencanaan
- melakukan taktik dan strategi studi,
- mengadaptasi studi. 
Jika tugas studi sama, tahapannya bisa dilompati. Masing-masing tahap menghasilkan suatu produk yang dievaluasi pemelajar (aktivitas kognitif) dan memutakhirkan kondisi tindakan untuk tahap selanjutnya. Persepsi siswa terhadap tugas belajar, misalnya adalah basis untuk penentuan dan tujuan di tahap kedua. Standar personal siswa juga memengaruhi tindakan di setiap tahap. Waktu yang tersedia untuk belajar juga memegaruhi keputusan siswa.

Pemecahan Masalah
Secara mum, pemecahan masalah berkaitan dengan penanganan tugas yang baru dan tidak terbiasa saat metode solusi yang relevan (bahkan jika sudah dikuasai sebagian) tidak diketahui (Schoenfeld, 1992, h. 354).

Masalah mengandung tiga komponen: ketentuan, tujuan, dan kegiatan yang dibolehkan. Ketentuan adalah unsur, relasi antar unsur, dan kondisi atau batasan yang menciptakan bentuk awal dari masalah (Anderson, 1985; Davidson & Sternberg, 1998). Tujuan adalah hasil yang diinginkan atau solusi, dan kegitatan yang dibolehkan (allowable operator) adalah langkah-langkah atau prosedur yang akan mengubah ketentuan menjadi tujuan (Mayer & Wittrock, 1996).

Klasifikasi masalah:
- Masalah yang didefinisikan dengan baik dan buruk
- Masalah rutin dan nonrutin

Selain pengetahuan metakognitif tentang maslaah dan strategi, keterampilan perencanaan, monitoring, dan evaluasi merupakan hal penting dalam keberhasilan pemecahan masalah.



Pemrosesan Informasi

Otak bukan konsumen informasi yang pasif... Informasi yang tersimpan dan strategi pemrosesan infrmasi dari sistem kognitif kita berinteraksi dengan informasi indrawi yang diterima dari lingkungan, memerhatian secara selektif atas informasi yang masuk, mengaitkannya dengan memori, dan secara aktif memberikan makna untuk informasi tersebut. (Wittrovk, 1990, 348)


Perspektif Kognitif: 
I. Pemrosesan Informasi

Prinsip Belajar
Teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Komponen esensial dari belajar adalah pengorganisasian informasi yang dipelajari, pengetahuan sebelumnya yang sudah dikuasai pemelajar, dan proses yang melibatikan pemahaman, pengertian, serta menyimpan dan mengambil kembali informasi. 

Asumsi Dasar
Dua asumsi pokok yang mendukung riset pemrosesan informasi adalah:
(1) Sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi

(2) Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam belajar

Nah, dalam proses pembelajaran yang kita temui setiap hari, misalnya saja saat kita berada dalam kelas Psikologi BelajarPada teori pemrosesan informasi dimbahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Pada awal kelas, tentu dosen pengampu akan memberikan informasi berupa materi ajaran, kemudian informasi yang didapatkan itu akan dikodekan oleh diri sendiri, sesuai dengan interpretasi kita masing-masing. Tindakan kita tentang materi yang diberikan dosen akan bergantung pada interpretasi kita sebelumnya.



Kondisi belajar Robert Gagné

Keterampilan, apresiasi, dan penalaran manusia dengan semua variasinya, dan juga harapan, aspirasim sikap, dan nilai-nilai manusia, umumnya diakui bahwa perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar. (Gagné, 1985, h. 1)


Asumsi Dasar
Asumsi dasar dari teori Gagné mendeskripsikan sifat unik dari kegiatan belajar manusia dan definisinya tentang belajar.

Keunikan Hakikat Belajar Manusia
Elemen penting dalam analisis Gagné adalah kaitan belajar dengan perkembangan, kompleksitas belajar pada manusia, dan masalah khusus dengan pandangan-pandangan sebelumnya.

Asumsi dasar Kondisi Belajar Gagné
Asumsi
Alasan
    1. Belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan terutama ditentukan secara genetik. Faktor yang memengaruhi belajar terutama ditentukan oleh kejadian dalam lingkungan pemelajar.
    2. Belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual.
2. Model yang diusulkan Arnold Gessel, bahwa pertumbuhan tubuh dan mental terkait erat, adalah tidak akurat.
    3. Banyak hasil belajar manusia  digeneralisasikan ke berbagai macam situasi.
3. Belajar bukan akuisisi kepingan-kepingan informasi secara terpisah-pisah.
    4. Belajar manusia adalah kumulatif, belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada belajar sebelumnya.
4. Seseorang tidak harus mempelajari seperangkat respons baru secara lengkap di banyak situasi.
    5. Belajar bukan proses tunggal.
5. Model S-R dapat menjelaskan asosiasi sederhana, tetapi tidak dapat menjelaskan belajar keterampilan yang kompleks.

Ringkasan
Pertama, berbeda dengan model pertumbuhan kesiapan dimana pendewasaan (maturation) mengatur proses belajar, Gagné berpendapat bahwa belajar adala faktor kausal penting dalam perkembangan.
Kedua, belajar manusia bersifat kumulatif. Belajar keterampilan tertentu akan memerikan kontribusi pada belajar keterampilan yang lebih kompleks.
Ketiga, belajar manusia adalah kompleks dan beragam. Prosesnya tidak dapat direduksi menjadi asosiasi S-R atau pengalaman wawasan yang dideskripsikan oleh teoritisi Gestalt.
Selain itu, studi belajar tidak boleh fokus pada pengembangan prinsip yang berlaku hanya pada satu bidang subjek. Juga, belajar menghasilkan disposisi yang dipertahnakan yang dibuktikan oleh kinerja tertentu. Keluaran (outcome) dari belajar disebut kapabilitas. Proses belajar adalah proses kogntif yang memproses informasi di lingkungan menjadi berbagai macam kapabilitas.


Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Untuk memahami gagasan tentang belajar yang memadai, kita pertama-tama harus menjelaskan bagaimana individu  bisa mengkonstruksi dan menciptakan bukan hanya bagaimana dia mengulangi dan meniru. (Piaget, 1970b)



Fokus dari teori Jean Piaget adalah menemukan asal muasal logika alamiah dan transformasinya dari satu bentuk penalaran ke penalaran lain.


Asumsi Dasar
Asumsi dasar teori ini adalah konsepsi Piaget tentang hakikat konstruktivis dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial dalam perkembangan kognitif.

Asumsi Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Pertanyaan
Sumber
Asumsi
Apa hakikat pengetahuan?
Filsafat
Pengetahuan adalah mengetahui, dan ia adalah sebuah proses yang diciptakan melalui aktivitas pemelajar.

Pengetahuan berasal dari pengalaman mentransformasi realitas melalui interaksi dengannya. (Chapman, 1999, h.32)
Apa relasi antara orang yang mengetahui dan realitas
     (a) Dalam penciptaan pengetahuan, individu dan objek berpadu dan tidak dapat dipisahkan.
     (b)  “Hubungan antara pemelajar dan objek tidak ditentukan sebelumnya dan yang lebih penting adalah relasi itu tidak stabil” (Piaget, 1970b, h. 704)
Apa hakikat kecerdasan?
Biologi
Kecerdasan manusia dan organism berfungsi serupa. Keduanya adalah sistem terorganisasi secara konstan berinteraksi dengan lingkungan. Mereka juga membangun struktur yang mereka butuhkan dalam rangka beradaptasi dengan lingkungan (Piaget, dalam Bringuier, 1980, hlm. 3).
Apa metode investgasi yang tepat?
Psikologi
Observasi dan eksperimentasi.

Ringkasan
Tujuan dari upaya Piaget adalah menemukan karakteristik dari logika alamiah, yang terdiri dari proses penalaran yang dibagun oleh individu pada berbagai fase dalam perkembangan kognitif. Pertama, dia tidak mendukung pendapat tentang pengetahuan sebagai informasi statis yang terpisah dari individu. Dalam karya Piaget, pengetahuan adalah proses mengetahui melalui interaksi dengan lingkungan, dan kecerdasan adalah sistem terorganisasi yang membentuk struktur yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Karena itu kecerdasan adalah proses yang terus berjalan dan berubah, dan aktivitas pemelajar menciptakan proses mengetahui. Transformasi dari salah satu bentuk penalaran ke bentuk yang lain tergantung kepada empat faktor esensial. Mereka adalah lingkungan, kematangan, pengaruh sosial, dan ekuilibrasi. Peran ekulibrasi adalah untuk mempertahankan fungsi kecerdasan ketika hal tersebut melakukan transformasi besar.